BANGSA INI PERLU KEJUJURAN (Catatan Akhir Tahun)
Oleh: Dr. dr. Pribakti Budinurdjaja, Sp.O.G, Subsp.Urogin.Re
Kejujuran adalah nilai moral yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bersikap jujur, kita dapat membangun hubungan yang sehat, meraih kepercayaan orang lain, dan menciptakan lingkungan yang positif.
Jujur bukan sekadar karakter, tapi fondasi kemanusiaan. Ketika orang bicara tentang karakter atau integritas , yang mereka maksud sering kali adalah satu hal: kejujuran. Bukan soal tahu mana yang benar , tapi berani memilih yang benar, bahkan saat tak ada yang melihat.
Hari ini, jujur adalah anak yatim piatu peradaban. Semua mengaku mencintainya, tapi tak satu pun mau mengasuhnya. Ia disebut dalam seminar, digantung di dinding sekolah, dicetak di spanduk-spanduk kampanye, dicetak dalam kurikulum, tapi dihapus dalam praktek. Dikumandangkan di atas mimbar, tapi ditinggalkan di ruang sidang putusan. Di lorong pengadilan, di meja tawar-menawar jabatan , jujur hanya dianggap pengganggu suasana.
Sekolah dan kampus yang semestinya jadi rumah kejujuran, realitasnya justru di sanalah nurani kerap pertama kali diajarkan untuk diam. Plagiarisme di halaman skripsi, tesis dan disertasi, titipan nilai di kelas dan kebiasaan mencontek di ujian dianggap lumrah. Ijazah bisa dibeli. Skripsi bisa di pesan, Tapi rasa malu? Langka dan tak dicetak.
Kini kampus bukan lagi rumah akal sehat, tapi pabrik gelar. Bahkan obral doktor-doktoran mewabah di kampus besar . Anak-anak SD/SMP/SMA, tak diajari menjadi jujur tapi menjadi pandai menyembunyikan ketidakjujuran. Kalau dulu ada yang namanya Ujian Nasional, kini Asesmen Nasional, dan entah apa lagi nanti, Tapi selama yang dihargai adalah angka bukan proses, maka nama boleh berganti, sementara nurani tetap dikalahkan.
Sistem bisa berubah, tapi selama nilai ujian di atas nurani masih jadi falsafah tak tertulis, maka jujur akan tetap jadi tamu di rumahnya sendiri karena kejujuran hanya strategi. Kalau tak menguntungkan, ia ditinggalkan. Jujur tak laku karena tak bisa dipamerkan. Ia terlalu senyap untuk zaman yang gemar sorak-sorai.
Jujur bukan cara menuju sukses, tapi ia satu-satunya jalan agar sukses terasa milik sendiri. Dan inilah inti dari semuanya : jujur adalah akar. Ia tak terlihat tapi menopang seluruh batang dan dahan kehidupan. Tanpa akar menancap dalam, pohon akan roboh.
Manusia pun begitu. Ia bisa punya gelar, nama besar dan pencapaian. Tapi tanpa kejujuran, semuanya rapuh. Sehebat apa pun bangunan jika berdiri di atas kebohongan diri, ia hanya menunggu waktu untuk runtuh-bisa diam-diam atau dramatis.
Di zaman yang suka memuja citra ini, kejujuran menjadi sepi. Yang jujur tak diundang bicara, karena terlalu sulit untuk dijual. Padahal bangsa ini perlu kejujuran karena jujur adalah benih kecil yang tumbuh jadi pohon kebaikan , jika disiram kesetiaan. Jujur tak memerlukan panggung tapi tanpanya, seluruh pertunjukan hidup menjadi sandiwara.
Alhasil, kejujuran tampak seperti napas-alami. Tapi seperti udara, ia bisa tercemar jika tak dijaga. Dan seperti udara, ia bisa dihisap siapa saja- hanya saja tak semua orang memilih menghirup udara yang bersih.
![]()