MENYEHATKAN SISTEM YANG SAKIT
Oleh: Dr. dr. Pribakti Budinurdjaja, Sp.O.G, Subsp.Urogin.Re
Rakyat Indonesia sepertinya tak takut sakit. Bukan karena kuat, tapi kebanyakan ditengarai karena tak tahu cara hidup sehat. Buktinya, biaya penyakit berat menggerogoti BPJS. Dilaporkan lebih dari sepertiga dana BPJS habis untuk menambal penyakit kronik. Imbasnya kejadian kematian akibat penyakit kronik grafiknya terus meninggi.
Kisah pasien sepuh adalah contoh paling nyata . Tubuhnya kering seperti batang jagung. Tiap pekan ia naik angkot dua kali seminggu untuk cuci darah karena komplikasi diabetes melitus. Ia hanya tahu hidupnya tergantung mesin dan negara melalui BPJS.
Atau kisah anak usia delapan tahun dari pinggiran kota yang rutin dua kali seminggu cuci darah yang dijamin BPJS. Sarapan tiap paginya: teh manis dan donat tabur gula. Ibunya bilang lebih murah daripada nasi. Ia belum tahu gizi.
Bagi rakyat yang miskin di Indonesia ( versi World Bank 2025 sebesar 60,3 persen) , hidup kadang cuma jeda antara jadwal berobat. Kartu BPJS gratis jadi jimat dan andalan sebagai penyambung nafas bagi jutaan keluarga miskin . Ia memang bukan bagian dari sistem yang sempurna, tapi sering menjadi satu-satunya pintu pertolongan.
Kartu BPJS gratis bukan hanya pemberi keajaiban, tapi ia memberi keadilan di negeri yang timpang . Bahkan kartu BPJS gratis adalah satu-satunya keadilan yang bisa dipegang rakyat miskin-walau yang ditambal cuma akibat. Negara lebih gesit bagi-bagi alat canggih Cathlab untuk kateterisasi jantung daripada perbaikan pola hidup rakyat miskin. Pencegahan dianggap utopia. Pengobatan dijadikan industri.
Badan POM yang seharusnya jadi pagar, berubah jadi palang pintu yang bisa digeser. Gula berlebih, sodium tersembunyi, lemak yang disamarkan, semua lolos . Semua punya izin edar . Rakyat miskin terus dicekoki gaya hidup yang pelan-pelan membunuh, lalu disodori kartu BPJS gratis untuk menenangkan. Ini bukan pelayanan. Ini anestesi sosial. Obat gratis tak bisa menyembuhkan kebijakan yang lalai. Kita tak kekurangan aturan tapi kekurangan nyali menegakkannya.
Ironisnya, direksi BPJS bergaji sekelas CEO. Dokter umum dibayar sedikit diatas UMR . Dokter gigi anak tiri. Keadilan jadi rapuh jika yang menyembuhkan dibayar murah, dan yang mengatur dibayar mahal. Sementara itu, antrian pasien terus mengular. Mereka datang untuk sembuh, tapi justru masuk daftar tunggu sakit berikutnya. Ini karena mereka tidak bisa sembuh dari sistem.
Saat ini kita bukan lagi bicara sistem yang sakit. Kita bicara sistem yang membuat sakit jadi keniscayaan. Sakit itu normal, sehat itu pengecualian. Selama penyebab sakit dibiarkan, sakit bakal akan jadi industri . Yang panen : industri rumah sakit Malaysia dan Singapura!
Buktinya pada tahun 2023, sebuah laporan menyebut ada sekitar 400.000 pasien Indonesia berobat ke Malaysia, menghasilkan pendapatan sekitar Rp 1,35 triliun. Sekitar 60-70 persen pasien asing di Malaysia berasal dari Indonesia.
Pada Februari 2025 , kembali diberitakan dari total dua juta warga Indonesia berobat ke luar negeri, sekitar 750.000 diantaranya ke Singapura.
Jadi jelas, fenomena orang Indonesia berobat ke Malaysia dan Singapura bukan kebetulan, tapi cermin dari krisis kepercayaan pelayanan kesehatan domestik. Lebih jauh , menilik jika ratusan juta rakyat miskin Indonesia sakit, dua juta berobat keluar negeri, maka kiranya tak salah-salah amat menyimpulkan orang Indonesia itu tak takut sakit. Kita tidak perlu baper bila ada yang berobat ke luar negeri. Hal yang wajar . Tugas pokok Kementerian Kesehatan adalah menyehatkan sistem yang sakit ini! Bila tidak , akan banyak orang Indonesia “mati” perlahan.
![]()
Selamat & Sukses kepada Dr. dr. Agung Ary Wibowo, Sp.B, Subsp.BD(K) atas dilantiknya sebagai Wakil Direktur Medik dan Keperawatan RSUD Ulin Banjarmasin

Segenap Keluarga Besar Departemen Ilmu Bedah FKIK ULM mengucapkan Selamat & Sukses kepada Dr. dr. Agung Ary Wibowo, Sp.B, Subsp.BD(K) atas dilantiknya sebagai Wakil Direktur Medik dan Keperawatan RSUD Ulin Banjarmasin.
![]()
REFLEKSI TENTANG KEHIDUPAN
Oleh: Dr. dr. Pribakti Budinurdjaja, Sp.O.G, Subsp.Urogin.Re
Kehidupan tidak hanya sekadar tentang eksistensi fisik, tetapi juga tentang perjalanan spiritual, emosional, dan intelektual yang membentuk esensi dari keberadaan kita.
Ibaratnya sebuah taman, kehidupan berisi aneka tanaman dengan komposisi beragam, tergantung pada pencipta taman itu. Supaya taman terlihat indah , kadang ada tangkai yang harus dipotong. Kadang dedaunan juga harus dipangkas. Kadang ada tanaman berbunga yang harus dicabut. Mengapa tanaman berbunga indah harus dicabut, sementara rumput tetap dibiarkan tumbuh?
Kalau kita menjadi bunga, barangkali pertanyaan seperti itulah yang akan muncul. Sebagai bunga , kita tidak bisa melihat komposisi tanaman dalam taman itu. Sebagai rumput kita pun tak pernah tahu mengapa masih dipertahankan. Tentu hanya Sang Pencipta taman itu yang paling memahami komposisi terbaik. Sebuah komposisi terbaik tidak selalu disumbang oleh bunga. Ternyata dalam konteks sebuah komposisi, rumput pun bisa merupakan kontributor keindahan.
Pencipta taman bisa menikmati keindahan taman ketika melihat dari atas, dengan sudut pandang luas. Sementara bunga dan rumput tak pernah mampu melihat dari atas karena terlalu sempitnya sudut pandang yang mereka miliki dan posisinya yang selalu di bawah melekat dengan tanah. Tuhan lah pencipta taman kehidupan. Tuhan lah yang tahu komposisi terbaik sebuah taman kehidupan. Kita semua sebagai bagian kccil unsur pembentuk taman tidak pernah mampu membayangkan desain taman seperti apa yang sedang dia rancang untuk kita.
Yang bisa kita lakukan adalah percaya bahwa Tuhan Maha Tahu tentang komposisi terbaik untuk kita. Kepercayaan inilah sebagai dasar keikhlasan kita untuk menerima keputusan apa pun dari Sang Pencipta taman kehidupan. Termasuk keputusan bahwa ada beberapa bunga yang ternyata harus diambil terlebih dahulu meninggalkan kita semua.
Yang harus kita yakini adalah bahwa Tuhan mengambilnya karena cinta dan pada saat yang sama kita harus yakini pula bahwa taman yang ditinggalkan bunga-bunga itu adalah taman dengan komposisi baru yang terbaik yang Dia rancang. Persangka baik bahwa Tuhan sedang membuat desain terbaik itulah yang harus terus kita jaga. Teruslah berikhtiar dilandasi sikap percaya, ikhlas dan berprasangka baik pada keputusan Tuhan itulah yang mestinya menjadi modal ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia ini.
![]()
BANGSA INI PERLU KEJUJURAN (Catatan Akhir Tahun)
Oleh: Dr. dr. Pribakti Budinurdjaja, Sp.O.G, Subsp.Urogin.Re
Kejujuran adalah nilai moral yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bersikap jujur, kita dapat membangun hubungan yang sehat, meraih kepercayaan orang lain, dan menciptakan lingkungan yang positif.
Jujur bukan sekadar karakter, tapi fondasi kemanusiaan. Ketika orang bicara tentang karakter atau integritas , yang mereka maksud sering kali adalah satu hal: kejujuran. Bukan soal tahu mana yang benar , tapi berani memilih yang benar, bahkan saat tak ada yang melihat.
Hari ini, jujur adalah anak yatim piatu peradaban. Semua mengaku mencintainya, tapi tak satu pun mau mengasuhnya. Ia disebut dalam seminar, digantung di dinding sekolah, dicetak di spanduk-spanduk kampanye, dicetak dalam kurikulum, tapi dihapus dalam praktek. Dikumandangkan di atas mimbar, tapi ditinggalkan di ruang sidang putusan. Di lorong pengadilan, di meja tawar-menawar jabatan , jujur hanya dianggap pengganggu suasana.
Sekolah dan kampus yang semestinya jadi rumah kejujuran, realitasnya justru di sanalah nurani kerap pertama kali diajarkan untuk diam. Plagiarisme di halaman skripsi, tesis dan disertasi, titipan nilai di kelas dan kebiasaan mencontek di ujian dianggap lumrah. Ijazah bisa dibeli. Skripsi bisa di pesan, Tapi rasa malu? Langka dan tak dicetak.
Kini kampus bukan lagi rumah akal sehat, tapi pabrik gelar. Bahkan obral doktor-doktoran mewabah di kampus besar . Anak-anak SD/SMP/SMA, tak diajari menjadi jujur tapi menjadi pandai menyembunyikan ketidakjujuran. Kalau dulu ada yang namanya Ujian Nasional, kini Asesmen Nasional, dan entah apa lagi nanti, Tapi selama yang dihargai adalah angka bukan proses, maka nama boleh berganti, sementara nurani tetap dikalahkan.
Sistem bisa berubah, tapi selama nilai ujian di atas nurani masih jadi falsafah tak tertulis, maka jujur akan tetap jadi tamu di rumahnya sendiri karena kejujuran hanya strategi. Kalau tak menguntungkan, ia ditinggalkan. Jujur tak laku karena tak bisa dipamerkan. Ia terlalu senyap untuk zaman yang gemar sorak-sorai.
Jujur bukan cara menuju sukses, tapi ia satu-satunya jalan agar sukses terasa milik sendiri. Dan inilah inti dari semuanya : jujur adalah akar. Ia tak terlihat tapi menopang seluruh batang dan dahan kehidupan. Tanpa akar menancap dalam, pohon akan roboh.
Manusia pun begitu. Ia bisa punya gelar, nama besar dan pencapaian. Tapi tanpa kejujuran, semuanya rapuh. Sehebat apa pun bangunan jika berdiri di atas kebohongan diri, ia hanya menunggu waktu untuk runtuh-bisa diam-diam atau dramatis.
Di zaman yang suka memuja citra ini, kejujuran menjadi sepi. Yang jujur tak diundang bicara, karena terlalu sulit untuk dijual. Padahal bangsa ini perlu kejujuran karena jujur adalah benih kecil yang tumbuh jadi pohon kebaikan , jika disiram kesetiaan. Jujur tak memerlukan panggung tapi tanpanya, seluruh pertunjukan hidup menjadi sandiwara.
Alhasil, kejujuran tampak seperti napas-alami. Tapi seperti udara, ia bisa tercemar jika tak dijaga. Dan seperti udara, ia bisa dihisap siapa saja- hanya saja tak semua orang memilih menghirup udara yang bersih.
![]()
PENDAFTARAN ATLS BANJARMASIN, 10-11 APRIL 2025

Pendaftaran ATLS Banjarmasin untuk periode 10-11 April 2026 kini telah dibuka.
Biaya pendaftaran: Rp6.000.000
Tempat: Departemen Ilmu Bedah RSUD Ulin Banjarmasin
Link pendaftaran: https://atlsindonesia.com / https://atlsbanjarmasin.com
![]()
PENDAFTARAN ATLS BANJARMASIN, 14-15 NOVEMBER 2025

Pendaftaran ATLS Banjarmasin untuk periode 14-15 November 2025 kini telah dibuka.
Biaya pendaftaran: Rp6.000.000
Link pendaftaran: https://atlsbanjarmasin.com/
Tempat: Departemen Ilmu Bedah RSUD Ulin Banjarmasin
![]()

